Langsung ke konten utama

Cinta Buku Sejak Bayi


Aktivitas membaca selalu menjadi bagian yang menyenangkan di keluarga kami. Kebetulan kami sudah menyukai buku sejak dulu. Dan itu hendak kami tularkan kepada anak-anak kelak. Bagi kami terutama saya, menyisihkan sebagian uang untuk buku bukanlah menjadi hal yang dianggap pemborosan. Begitupula suami, ia selalu mendukung ketika saya mulai kambuh membuat list untuk beli buku ini itu. Suami tak pernah melarang dan selalu acc ketika saya menunjukkan proposal permohonan buku. Saat ini, saya sedang hobi-hobinya beli buku untuk batita. Pengennya sih bisa beli banyak sekaligus. Tapi ternyataaa.. Buku batita agak mahal. Kalau mau beli sekali angkut borongan, isi tabungan bisa tipis. Duuhhh..... Alhasil ya beli sedikit-sedikit, setidaknya cukup untuk awalan teman belajar bagi si kecil kelak.

Family reading time kali ini masih kurang komplit. Hanya aktivitas membaca saya dan si kecil aja. Ayahnya sedang sok sibuk akhir-akhir ini. Selalu pulang dalam keadaan capek. Jadilah ia tak sempat meladeni PR saya dengan seutuhnya. Jadi pemeran utama kali ini adalah saya dan si kecil. Saya ingin mengenalkan sedini mungkin pada anak, bahwa buku dan aktivitas membaca adalah hal yang sangat menyenangkan. Maka sejak umur 4 atau 5 bulan si kecil sudah sering dibacakan cerita. Saya dan suami gantian membacakan cerita untuk si kecil. Proporsi saya lebih banyak, karena suami lebih padat kegiatannya.

Setiap hari minimal saya harus membacakan dua cerita. Dua cerita itu saya ambilkan dari dua buku yang berbeda. Satunya buku kisah teladan dan satunya lagi buku cerita anak tentang kegiatan sehari-hari.

Apakah buku yang dibacakan untuk Si Kecil hari ini?
Hari ini buku yang dibacakan untuk si kecil adalah "Aku Bisa Berhitung" dan kisah teladan "Ashabul Ukhdud". Buku "Aku Bisa Berhitung" bercerita tentang semangat Syifa untuk belajar berhitung setelah melihat nilai kakaknya mendapat A dalam pelajaran berhitung. Syifa semangat sekali menghitung semua benda di sekitarnya. Dari cerita ini, harapannya si kecil kelak akan menyukai berhitung akibat termotivasi cerita ini.

Kemudian, kisah teladan "Ashabul Ukhdud" ini menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang tidak mau keluar dari agama Allah walau ia diancam oleh Sang Raja. Sang Raja berkali" berencana membunuh pemuda itu. Tetapi selalu gagal. Pemuda itu memberitahukan cara bagaimana supaya Raja dapat membunuh dirinya yaitu dengan mengumpulkan semua warga kemudian menyalib dan memanahnya sembari mengatakan "dengan menyebut asma Allah Tuhan si pemuda ini". Raja pun melakukakannya. Benar saja si pemuda terbunuh. Tapi semua orang yang menyaksikan sudah beriman pada Allah. Ketika Raja menyuruh mereka keluar dari agama Allah, mereka menolak. Kemudian Raja memerintahkan untuk menggali parit dan menyalakan api. Ia menyuruh orang" untuk masuk ke dalamnya jika tidak mau keluar dari agama Allah. Maka sebagian besar dari mereka, tanpa rasa takut terjun ke dalam api. Dari cerita ini, dicontohkan bahwa dalam beriman pada Allah harus teguh. Tidak setengah-setengah.

Nah.. Cukup sudah family reading time bersama si kecil. Terlepas dari dia sudah memahami atau belum, saya percaya bahwa dia mulai belajar.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pojok Bermain Lula

Bermain menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari masa kanak-kanak termasuk usia bayi. Bermain dibutuhkan anak-anak sebagai sarana eksplorasi sekaligus sebagai sarana bermain peran. Melalui bermain, anak-anak bisa mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ia bisa mengenal berbagai bentuk benda, warna, halus kasar, besar kecil, dan sebagainya. Ketika ia memainkan sesuatu, ia berarti melihat dan memegang lebih dekat apa yang anak tersebut mainkan. Demikian pula dengan bermain peran. Dalam kegiatan bermain, kadang anak berperan seolah-olah menjadi penjual, ibu, dokter, pembeli, guru, atau pekerjaan lainnya. Peran yang dimainkan anak-anak bisa membantu memperkaya kosa kata yang dimilikinya. Apakah terdapat hubungan antara bermain dan mendidik? Menurutku bermain erat kaitannya dengan mendidik terutama bagi anak-anak di usia balita. Ketika bermain, ia sekaligus dapat belajar banyak hal. Misalnya, dalam permainan kubus meraba untuk bayi usia 6 bulan. Ketika bermain kubus meraba, bayi dapa...

Resensi Buku "Rumahku Madrasah Pertamaku"

Judul Buku : Rumahku Madrasah Pertamaku (Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak) Penulis : Dr. Khalid Ahmad Syantut Penerbit : Maskana Media (Imprint Pustaka Rumah Main Anak) Cetakan : kedua, Januari 2019 Jumlah Halaman : 184 halaman Pertama kali melihat iklan masa PO buku ini, saya langsung tertarik untuk memesannya. Saya memang senantiasa tertarik pada buku parenting . Ketidaksempurnaan dalam diri saya membuat saya ingin terus memperbaiki supaya kelak saya bisa mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul inginkan. Setelah menunggu selama kurang lebih dua minggu, akhirnya buku ini berada di pelukan saya. Desain dan layout buku yang menarik membuat saya ingin segera membacanya. Kemudian, saya bacalah buku ini, mengalahkan tumpukan buku lain yang belum sempat terbaca. "Rumahku Madrasah Pertamaku" begitulah judul buku ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengingatkan saya kembali tentang betapa berpengaruhnya lingkungan rumah terhadap karakter a...

Mendidik Adalah Perjalanan

Mendidik bisa dikatakan sebagai proses yang tiada habisnya. Di dalam mendidik ada menuntut ilmu, belajar, adab, atau pembiasaan. Semua hal tersebut tidak dapat terlaksana secara serta merta. Butuh waktu, butuh proses. Proses tersebut kadang panjang, lama, atau bahkan mengendap kemudian muncul kembali. Tak jarang dalam proses tersebut ada halang rintang, ada kegagalan, ada keberhasilan, dan ada refleksi. Mendidik dapat diibaratkan sebagai perjalanan panjang. Ketika masih dalam proses pencarian jati diri, sama sekali tidak terbersit bahwa aku akan mendalami peran mendidik ini. Dulu, aku berpendapat bahwa mendidik sama dengan mengajari, sama seperti pekerjaan guru pada umumnya. Aku terjun dalam dunia kependidikan karena keterpaksaan, yang kemudian tumbuh dan mekar menjadi rasa cinta. Menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupku. Sekarang, mendidik dalam sudut pandangku bukan hanya sebatas mengajari dari tidak tahu menjadi tahu. Namun lebih dari itu. Mendidik itu menyenangkan ...