Langsung ke konten utama

Postingan

Biografi Singkat Muhammad al Fatih

Sultan Muhammad II atau lebih dikenal sebagai Muhammad al Fatih (833 H) adalah salah seorang sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Daulah Utsmaniah. Ia mendapat gelar al Fatih yang berarti Sang Penakluk. Al Fatih memerintah Daulah Utsmaniah pada umur 22 tahun setelah ayahnya, Sultan Murad II wafat.

Al Fatih terkenal sebagai sultan yang adil, cerdas, dan berkepribadian baik. Sebelum menjadi sultan, ia berguru dengan Syekh Al Kaurani. Syekh Al Kaurani terkenal sebagai guru yang tegas. Beliau sangat keras dan tegas dalam mendidik Al Fatih, bahkan tak segan-segan untuk memukulnya. Beliaulah salah satu guru yang mengantarkan Al Fatih pada berbagai cahaya ilmu. Al Fatih sangat tertarik pada pelajaran sejarah dan bahasa, yang selanjutnya sangat membantu Al Fatih dalam menjalani pemerintahannya. Ia sangat peduli terhadap urusan keuangan negara dan pengembangan pemerintah daerah. Ia mencegah pemborosan dan kemewahan, di sisi lain ia menaikkan …
Postingan terbaru

Sifat Teladan Muhammad Al Fatih

Malam menjelang. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik yang menghuni sepetak kebun di samping rumah. Al menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Beberapa menit kemudian ia buka selimut tersebut. Sesekali ia mengganti posisi tidurnya. Namun, matanya tak juga terpejam. Ia sudah mencoba berbagai cara supaya tertidur. Ia sudah menghitung hingga 100, sudah pula merapal Asmaul Husna. Namun, nihil. Matanya tak juga mau terpejam.

Setelah berbagai cara tak berhasil membuat dirinya tidur. Al akhirnya turun dari tempat tidurnya. Berjingkat ia menuju kamar orang tuanya. Kamar sudah gelap, artinya ayah dan ibunya sudah tidur. Al mengetuk pintu kamar dengan ragu-ragu. Agak lama tak ada jawaban. Hingga akhirnya di ketukan ketiga pintu kamar terbuka.

“Ada apa, Al?” tanya Ayah setengah mengantuk.
“Aku tak bisa tidur, Yah. Maukah Ayah tidur bersamaku? Ceritakan apa saja hingga aku tertidur,” pinta Al sambil memandang ayahnya. Ayah tersenyum dan mengangguk, kemudian  menutup pintu kamar pelan. Mereka be…

Sepaket Buku "Profesor Cilik" Sayang untuk Dilewatkan

Sekilas membaca iklan open Pre Order buku ini, saya tak begitu tertarik. Selintas lalu saja membacanya. Namun, begitu tau isinya saya jadi tertarik dengan buku ini. Saya memang berniat mendekatkn anak-anak pada sains. Buku ini bisa menjadi buku yang tepat bagi anak-anak untuk mengenalkan betapa mengasyikkannya belajar sains. Berbagai fenomena alam diceritakan dengan cerita ringan yang seru dan mengasyikkan.

Sepaket "Profesor Cilik" berisi 3 buah buku dengan seri yang berbeda. Seri yang disajikan meliputi Rahasia Langit dan Bumi (152 halaman), Rahasia Api, Air (136 halaman), dan Udara, serta Rahasia Sains Sehari-hari (126 halaman). Semuanya dicetak denga kertas 70 gram berukuran 17cm x 24cm.

Sekilas biasa saja memang. Maka saya melanjutkan mencari lebih dalam tentang kelebihan buku. Buku ini berisi cerita-cerita sains terbaik yang mengandung hikmah untuk pembentukan karakter anak. Pada bagian dalam buku terdapat kolom aktivitas yang mengasah kreativitas dan daya nalar anak s…

Review Novel "I am Sarahza"

Judul buku : I am Sarahza
Pengarang : Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra
Jumlah halaman : 364 halaman
Penerbit : Republika

Buku ini datang secara tiba-tiba. Tanpa rencana. Tanpa anggaran. Tiba-tiba sampai di pelukan lewat perantara suamiku tercinta. Pulang diklat penulisan buku, ia membawa 4 buah buku yang ia dapatkan secara gratis. Tiga buku ditulis oleh guru yang tergabung dalam satu guru satu buku dan satu buku yang lain karangan Hanum Salsabila berjudul "I am Sarahza". Saya langsung tertarik dengan buku "I am Sarahza". Kebetulan buku ini sempat menjadi perbincangan. Tak dinyana, buku ini tiba-tiba berada di hadapan.

Buku ini menceritakan perjalanan Sarahza sebelum hadir di keluarga Hanum dan Rangga. Diceritakan bahwa proses kehadiran Sarahza sangatlah panjang. Berbagai upaya telah dilakukan Hanum dan Rangga demi hadirnya seorang buah hati. Mulai dari cara konvensional hingga bayi tabung yang mengalami beberapa kali kegagalan. Bayi tabung yang menurut perhit…

Kekejaman Salah Asuh di Masa Lalu

Saya sering mendengar dan membaca bahwa pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap pribadi anak di masa depan. Perlakuan orang tua mereka di masa lalu akan membentuk pribadi seseorang di masa sekarang. Awalnya aku tak begitu memperhatikan kedahsyatan masa lalu tersebut terhadap pribadi seseorang. Ternyata, pengaruh itu sungguh nyata dan benar.

Anak diibaratkan sebuah kaset yang siap merekam setiap hal sejak berada dalam kandungan. Bahkan janin di dalam kandungan menyerap emosi ibu. Anak yang bahagia terlahir dari ibu yang bahagia pun demikian sebaliknya. Hal tak kasat mata macam emosi saja bisa diserap janin, apalagi lisan? Maka berkatalah yang baik. Lakukan semua hal baik ketika hamil.

Terkadang memang sulit menjaga emosi. Dalam hidup ini kadang ada beberapa hal yang memang memantik emosi. Bersabarlah. Hindarilah berkata kasar, berperilaku kasar, atau bertengkar dengan suami. Ketika ingin marah, luapkanlah dengan aktivitas yang bijak. Menulis bisa menjadi salah satu alternatif.

Terancam Sampah Pospak

Sampah memang selalu menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Seolah masalah sampah ini tak pernah putus. Alih-alih dihilangkan, sampah hanya berpindah tempat saja. Sampah yang awalnya berada di lingkungan domestik kemudian berpindah ke TPA. Di TPA sampah menggunung, menimbulkan masalah baru demikian seterusnya. Maka slogan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya" saat ini dirasa kurang tepat dan tidak menyelesaikan masalah.

Sampah selalu menjadi PR bagi semua masyarakat, tak hanya di negara kita bahkan masyarakat dunia pun mempunyai masalah terkait sampah ini. Masalah sampah yang hendak saya kupas adalah sampah popok sekali pakai (pospak). Pospak hampir pasti menjadi kebutuhan para ibu yang memiliki bayi. Saya sering melihat ibu-ibu membeli pospak dalam jumlah besar. Bahkan para ibu ini rela mengembara ke berbagai supermarket demi diskon pospak. Pospak seolah menjadi kebutuhan primer para ibu yang memiliki bayi dengan dalih menjaga kewarasan.

Jika dihitung secara kasar, kebutuh…

Membiasakan Anak untuk Beradab

Adab atau ilmu? Seorang anak hendaknya diajarkan adab dulu atau ilmu? Kalau saya setuju diajarkan adab dulu. Mengapa? Pembiasaan adab membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan sekedar pengetahuan. Setelah anak memiliki adab, proses memperoleh ilmu akan lebih mudah. Anak yang beradab akan memperoleh keduanya yaitu adab dan ilmu. Anak yang berilmu belum tentu mmmpunyai adab. Oleh karena itu, adab menjadi penting dalam mendidik anak.

Tulisan ini adalah lanjutan dari formula literasi membaca yang sudah pernah saya terapkan pada siswa kelas 2 SD. Di balik formula literasi yang saya uji cobakan pada mereka, saya menyelipkan beberapa muatan pendidikan karakter seperti budaya antre, saling menghormati, jujur, dan.bertanggung jawab. Harapan saya waktu itu adalah saya bisa mengajarkan mereka adab sekaligus ilmu, seperti kata pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Di awal saya membagikan buku cerita yang harus mereka baca lembar d…