Langsung ke konten utama

List Belanja Alula


Sampai umur Alula yang ketiga bulan, saya masih kesulitan menitipkannya. Bahkan ibu saya sendiri kerepotan dititipi Alula tatkala ia mulai menangis. Alula memang ngeri kalau udah mulai menangis, dan satu-satunya obat tangisannya adalah nenen. Alhasil, selalu ada kekhawatiran dalam diri saya ketika hendak meninggalkan Alula walau hanya dua sampai tiga jam. Walau demikian, saya harus tetap mengajak Alula belajar mandiri sebagai antisipasi jika September nanti saya benar-benar mulai bekerja.

Bulan September nanti Alula sudah berumur 6 bulan, artinya ia sudah mulai makan makanan pendamping ASI. Mumpung ayahnya masih liburan, saya berencana belanja kebutuhan makan dan minum Alula. Kalau sudah mulai masuk sekolah, ayah Alula biasanya jadi sibuk dan pulang sore terus. Sebelum sampai di toko, saya bikin list belanja dulu sekaligus membaca review barang supaya tidak salah beli. List belanja ini penting juga supaya gak kalap membeli barang lain yang sebenarnya tidak butuh dibeli.

Nah., berikut list belanja Alula untuk persiapan makan dan minum ASIP:
  • -          Sippy cup
  • -          Spoonfeeder
  • -          Alat makan (sendok, piring, mangkok)
  • -          Food container
  • -          Cooler bag
  • -          Botol ASIP / kantong ASIP
  • -          BP Silicon
  • -          Ice gel

Sebenernya masih ada wishlist lagi disamping list tersebut (seperti food maker dan slow cooker), tapi sepertinya alat-alat itu masih belum butuh banget. Masih ada alat di rumah yang sudah ada dan dapat digunakan. Demi menghindari tindakan yang bersifat pemborosan, maka saya membelanjakan barang yang memang dibutuhkan Alula ketika makan dan minum nanti. J



#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#Cerdas Finansial


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pojok Bermain Lula

Bermain menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari masa kanak-kanak termasuk usia bayi. Bermain dibutuhkan anak-anak sebagai sarana eksplorasi sekaligus sebagai sarana bermain peran. Melalui bermain, anak-anak bisa mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ia bisa mengenal berbagai bentuk benda, warna, halus kasar, besar kecil, dan sebagainya. Ketika ia memainkan sesuatu, ia berarti melihat dan memegang lebih dekat apa yang anak tersebut mainkan. Demikian pula dengan bermain peran. Dalam kegiatan bermain, kadang anak berperan seolah-olah menjadi penjual, ibu, dokter, pembeli, guru, atau pekerjaan lainnya. Peran yang dimainkan anak-anak bisa membantu memperkaya kosa kata yang dimilikinya. Apakah terdapat hubungan antara bermain dan mendidik? Menurutku bermain erat kaitannya dengan mendidik terutama bagi anak-anak di usia balita. Ketika bermain, ia sekaligus dapat belajar banyak hal. Misalnya, dalam permainan kubus meraba untuk bayi usia 6 bulan. Ketika bermain kubus meraba, bayi dapa...

Resensi Buku "Rumahku Madrasah Pertamaku"

Judul Buku : Rumahku Madrasah Pertamaku (Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak) Penulis : Dr. Khalid Ahmad Syantut Penerbit : Maskana Media (Imprint Pustaka Rumah Main Anak) Cetakan : kedua, Januari 2019 Jumlah Halaman : 184 halaman Pertama kali melihat iklan masa PO buku ini, saya langsung tertarik untuk memesannya. Saya memang senantiasa tertarik pada buku parenting . Ketidaksempurnaan dalam diri saya membuat saya ingin terus memperbaiki supaya kelak saya bisa mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul inginkan. Setelah menunggu selama kurang lebih dua minggu, akhirnya buku ini berada di pelukan saya. Desain dan layout buku yang menarik membuat saya ingin segera membacanya. Kemudian, saya bacalah buku ini, mengalahkan tumpukan buku lain yang belum sempat terbaca. "Rumahku Madrasah Pertamaku" begitulah judul buku ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengingatkan saya kembali tentang betapa berpengaruhnya lingkungan rumah terhadap karakter a...

Review: Piknik Edukatif Disponsori oleh Bukalapak

Ingat piknik, jadi ingat ketika saya masih kecil dulu. Piknik menjadi suatu hal yang sangat luar biasa karena hanya terjadi sekali selama 1 semester, yaitu ketika libur sekolah. Minimnya sarana dan keterbatasan dalam banyak hal membuat moment piknik ini memang sangat jarang terjadi ketika saya kecil. Ketika saya masih kecil, akses informasi belum secepat sekarang. Ketika hendak piknik tempat yang dituju biasanya hanya tempat yang memiliki wahana bermain. Di benak saya dan keluarga, piknik identik dengan bermain. Dapat dikatakan bahwa bukan piknik namanya jika tidak naik wahana apapun di tempat rekreasi. Itu persepsi piknik ketika saya masih kecil. Nah.. Begitu sekarang saya menjadi ibu, persepsi tentanf piknik menjadi bergeser. Piknik tidak hanya terbatas pada bermain atau wahana permainan. Piknik seharusnya bisa memuat nilai-nilai edukatif untuk menanamkan hal yang positif pada anak. Ketika anak piknik, mereka harus bisa mengambil suatu nilai atau mempelajari sesuatu. Salah satu te...