Langsung ke konten utama

Harapan untuk RCO




Alhamdulillah.. telah sampailah saya pada tantangan RCO yang terakhr. Sejak awal mengikuti RCO ini saya sudah sangat antusias karena saya pribadi hobi membaca. Menemukan RCO seolah menemukan wadah yang tepat bagi hobi saya. RCO juga membuat saya membaca buku-buku yang tidak biasa saya baca, terutama buku yang memperoleh nobel. RCO membuat saya keluar dari zona nyaman saya.

Pada minggu-minggu awal mengikuti RCO, saya bisa tuntas tiada kendala dalam menyelesaikan membaca buku dan menulis tantangan. Mungkin karena buku yang dibaca masih bebas, sehingga saya nyaman dalam membaca dan menuangkannya dalam tulisan. Seiring berjalannya waktu, buku yang dibaca harus sesuai aturan RCO. Nah.. di sinilah tantangannya. Harus bisa mengalahkan malas dan rasa ketidaktertarikan di jenis buku tertentu.

Kegiatan RCO ini bagus sekali menurut saya. Seperti istilah “jatuh cinta karena terbiasa”, membaca pun demikian. Kita baru akan merasakan suka membaca, suka terhadap buku tertentu setelah kita terbiasa dengan mereka. RCO ini memaksa kita untuk terbiasa, otomatis memaksa kita untuk jatuh cinta. Bukankah untuk sesuatu yang baik kita memang perlu dipaksa?

Harapan ke depan, semoga RCO tetap selalu ada, tidak hilang dari edaran. Senantiasa menyajikan pembaharuan di setiap tantangan-tantangannya. Menurut saya, RCO ini efektif sekali dalam menularkan virus suka membaca di berbagai tingkatan umur. Jika banyak masyarakat yang membaca, insya Allah negara kita akan lebih baik. Semoga melalui RCO, bisa meningkatkan konsumsi buku sehingga Indonesia tidak masuk di ranking dua terakhir dalam hal literasi.



#readingchallengeodop
#ondedayonepost
#tantanganRCO
#tantangan2



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pojok Bermain Lula

Bermain menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari masa kanak-kanak termasuk usia bayi. Bermain dibutuhkan anak-anak sebagai sarana eksplorasi sekaligus sebagai sarana bermain peran. Melalui bermain, anak-anak bisa mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ia bisa mengenal berbagai bentuk benda, warna, halus kasar, besar kecil, dan sebagainya. Ketika ia memainkan sesuatu, ia berarti melihat dan memegang lebih dekat apa yang anak tersebut mainkan. Demikian pula dengan bermain peran. Dalam kegiatan bermain, kadang anak berperan seolah-olah menjadi penjual, ibu, dokter, pembeli, guru, atau pekerjaan lainnya. Peran yang dimainkan anak-anak bisa membantu memperkaya kosa kata yang dimilikinya. Apakah terdapat hubungan antara bermain dan mendidik? Menurutku bermain erat kaitannya dengan mendidik terutama bagi anak-anak di usia balita. Ketika bermain, ia sekaligus dapat belajar banyak hal. Misalnya, dalam permainan kubus meraba untuk bayi usia 6 bulan. Ketika bermain kubus meraba, bayi dapa...

Resensi Buku "Rumahku Madrasah Pertamaku"

Judul Buku : Rumahku Madrasah Pertamaku (Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak) Penulis : Dr. Khalid Ahmad Syantut Penerbit : Maskana Media (Imprint Pustaka Rumah Main Anak) Cetakan : kedua, Januari 2019 Jumlah Halaman : 184 halaman Pertama kali melihat iklan masa PO buku ini, saya langsung tertarik untuk memesannya. Saya memang senantiasa tertarik pada buku parenting . Ketidaksempurnaan dalam diri saya membuat saya ingin terus memperbaiki supaya kelak saya bisa mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul inginkan. Setelah menunggu selama kurang lebih dua minggu, akhirnya buku ini berada di pelukan saya. Desain dan layout buku yang menarik membuat saya ingin segera membacanya. Kemudian, saya bacalah buku ini, mengalahkan tumpukan buku lain yang belum sempat terbaca. "Rumahku Madrasah Pertamaku" begitulah judul buku ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengingatkan saya kembali tentang betapa berpengaruhnya lingkungan rumah terhadap karakter a...

Review: Piknik Edukatif Disponsori oleh Bukalapak

Ingat piknik, jadi ingat ketika saya masih kecil dulu. Piknik menjadi suatu hal yang sangat luar biasa karena hanya terjadi sekali selama 1 semester, yaitu ketika libur sekolah. Minimnya sarana dan keterbatasan dalam banyak hal membuat moment piknik ini memang sangat jarang terjadi ketika saya kecil. Ketika saya masih kecil, akses informasi belum secepat sekarang. Ketika hendak piknik tempat yang dituju biasanya hanya tempat yang memiliki wahana bermain. Di benak saya dan keluarga, piknik identik dengan bermain. Dapat dikatakan bahwa bukan piknik namanya jika tidak naik wahana apapun di tempat rekreasi. Itu persepsi piknik ketika saya masih kecil. Nah.. Begitu sekarang saya menjadi ibu, persepsi tentanf piknik menjadi bergeser. Piknik tidak hanya terbatas pada bermain atau wahana permainan. Piknik seharusnya bisa memuat nilai-nilai edukatif untuk menanamkan hal yang positif pada anak. Ketika anak piknik, mereka harus bisa mengambil suatu nilai atau mempelajari sesuatu. Salah satu te...