Langsung ke konten utama

Postingan

Latihan Dasar Kemandirian Berumah Tangga

Saya dan suami adalah keluarga kecil yang masih mencari-cari pola berumah tangga yang cocok dengan karakter pribadi kita masing-masing. Di awal pernikahan sempat terjadi kebingungan urusan domisili dan sempat terbersit untuk menjalani Long Distance Marriage atau istilah kerennya LDM. Selama beberapa bulan suami tinggal di rumah orang tua saya karena lokasi kerja yang berdekatan dengan rumah saya, sementara saya bekerja di luar kota. Ternyata kehidupan seperti itu bukan yang kami cari. Qodarullah., ada sesuatu hal yang memaksa suami saya sehingga saya harus resign dari pekerjaan yang sudah dan hendak saya jalani. Kemudian, kami memutuskan untuk tinggal berdua saja di kota asalnya. Dan., di sinilah kehidupan kami yang sebenarnya dimulai. Kami tinggal di rumah kecil yang belum 100% jadi. Walaupun berdekatan dengan rumah mertua tapi kami berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri. Sebenarnya, urusan kemandirian pribadi sudah terbentuk dalam diri kami masing-masing. Sejak sebelum m...

Aliran Rasa Game Level 1 Bunda Sayang “Komunikasi Produktif”

Alhamdulillah., game level 1 bisa terlampaui dengan baik dan tepat waktu. Level ini gampang-gampang susah untuk diterapkan. Mulai dari hari pertama sampai hari ini masih terus mencoba bagaimana menjalin komunikasi produktif dengan suami. Saya berusaha menghilangkan “bahasa perempuan” saya dalam berkomunikasi dengannya, terutama ketika saya memerlukan bantuan. Hasilnya, suami bisa lebih mengerti dan jarang terjadi “miskom” lagi. Urusan bahasa tubuh dan mimik muka juga mulai saya benahi. Saya berusaha menunjukkan bahasa tubuh dan mimik muka sesuai perasaan saya. Misalnya, ketika suami bercerita tentang kesehariannya, dan ada hal yang saya kurang setuju, maka mimik muka saya akan menunjukkan ketidaksetujuan tersebut. Cara itu membuat suami lebih mengerti maksud hati saya. Setelah mendapat refleksi dari tim IIP Bunda Sayang tentang komunikasi produktif, saya kemudian mencocokkan masuk dalam pola bagaimana komunikasi antara saya dan suami??. Pola komunikasi saya dan suami didominas...

Ibuk... Aku Lapar.....

Kemarin pulang kerja suami sudah menunjukkan muka lelah, tidak memungkinkan untuk mengajaknya diskusi serius. Maka hari ini sempat bingung mau nulis apa demi melengkapi tantangan 10 hari ini. Beruntung dapat ide dari teman-teman Bunsay 3 IIP bahwa komunikasi produktif bisa juga dilakukan bersama janin yang masih ada di dalam perut. Sebelumnya gak kepikiran bahwa komunikasi antara ibu dan janin dalam perut bisa masuk dalam komunikasi produktif. Nah., ide dari teman-teman itu yang membuat saya tergerak untuk menulis bentuk komunikasi bersama janin. Sejak belum respon mendengar, si adek sudah sering saya ajak ngobrol. Drama di awal kehamilan membuat saya merasa harus selalu berbicara dengannya dan meyakinkannya bahwa ia selalu dalam keadaan baik dan sehat. Sampai sekarang yang sering saya katakan padanya adalah tentang kesehatan dan kesejahteraannya selama di dalam rahim. Kalau agak lama tidak ada gerakan kecil dari perut, saya tanyakan keadaannya “Hallo adek.. adek sehat-sehat...

Diskusi Serius: Pornografi di Kalangan Anak SD

Agaknya istilah “teman hidup” dalam pernikahan memang ada benarnya. Setelah menikah saya justru merasa hubungan saya dan suami lebih seperti teman, bukan kekasih layaknya orang pacaran. Tak jarang kami masih berperilaku konyol seperti anak sekolahan, atau membicarakan hal paling tidak penting seperti praktik bahasa alien. Jadi suasana yang terbangun di rumah justru seperti sepasang teman yang kadang saling ejek, saling bercerita, atau melakukan keisengan bersama. Dan itu jauh sekali dari romantisme. Selain hal kekanak-kanakan, tak jarang kami juga berdiskusi serius. Secara umum background diri kami sama-sama di bidang pendidikan. Membicarakan pendidikan dengan suami sering bikin saya betah, walaupun sering tergelitik untuk mendebat. Masih ada beberapa sudut pandang pendidikan yang belum satu visi antara saya dan suami. Diskusi semacam ini tak pernah terencana, kadang dari ngobrol tentang apa kemudian nyambung aja ke pembicaraan serius. Seperti kemarin, yang entah darimana bera...

Dalam Rangka Mengurangi “Bahasa Perempuan”

Belajar dari kejadian beberapa hari yang lalu dan sebelum-sebelumnya, saya memang harus mulai memangkas “bahasa perempuan” saya menjadi bahasa yang lebih lugas dan mudah dipahami suami. Penggunaan “bahasa perempuan” ini justru hanya menyusahkan saya dan mempersulit komunikasi efektif. Jika kemarin-kemarin saya masih menggunakan “bahasa perempuan” alias berputar-putar ketika hendak minta tolong pada suami, sekarang saya lebih lugas mengatakannya. Hasilnya, suami lebih paham dan bisa memangkas waktu berdebat yang tak penting. Gengsi gede-gedean memang harus dihilangkan ketika sudah berumah tangga supaya tidak terjadi miskomunikasi. Jika suami sudah sering paham terhadap mau saya, gantian saya juga harus paham terhadap apa mau suami. Sayangnya, pemahaman saya terhadap suami tidak sebaik pemahaman suami terhadap saya. Beberapa kali saya masih salah membaca keadaan, sehingga saya merasa tak begitu bermanfaat bagi suami. Belajar memahami ini benar-benar butuh waktu. Tadi malam s...

Menyatukan Perbedaan

Dibesarkan dalam lingkungan dan latar belakang yang berbeda membuat banyak perbedaan kebiasaan antara saya dan suami. Perbedaan memang hal wajar dalam rumah tangga. Perbedaan itu pula yang harus kita sikapi dengan positif. Salah satu perbedaan yang kadang bikin saya geregetan adalah masalah makanan. Dulu suami memiliki pola makan yang sangat tidak teratur, tidak pernah sarapan dan gemar mengkonsumsi mie instan. Saya kebalikannya, sarapan adalah hal wajib bagi saya sebelum melakukan kegiatan dan mie instan adalah makanan yang paling anti dalam pola makan saya. Hal ini bisa jadi dianggap sebagai hal sepele, namun bagi saya sangat penting. Beberapa kali suami sering tidak sarapan dan baru makan setelah pukul 14.00 atau bahkan setelah tiba di rumah pukul 16.00 atau 17.00. Saya miris membayangkan bagaimana suami saya bekerja tanpa asupan makanan yang memadai di pagi hari. Suami pada dasarnya juga keras kepala, kadang sudah diingatkan untuk makan atau mau dibawakan bekal, alasannya...

Pemilihan Waktu yang Tepat

Salah satu materi Bunda Sayang IIP tentang komunikasi produktif yang saya ingat adalah “choose the right time”. Memilih waktu yang tepat untuk berbicara adalah hal yang sangat penting demi tercapainya komunikasi produktif. Berbicara dalam hal ini tentu bukan bicara asal, tetapi bicara yang kadarnya serius. Dalam keluarga kecil saya, waktu yang tepat untuk berbicara serius adalah selepas shalat isya, menjelang tidur. Saat-saat tersebut adalah saat yang santai di mana semua pekerjaan rumah sudah beres dan suami pikirannya sudah adem. Jika tidak ada hal serius yang dibicarakan, hal apapun bisa menjadi bahan pembicaraan antara saya dan suami. Malam itu suami menyampaikan keinginannya yang sudah lama ia timbang-timbang. Entah darimana pembicaraan bermula, suami kemudian menanyakan pada saya “Jadi... kapan aku bisa sekolah lagi?” . Ah iya.. suami beberapa bulan lalu memang pernah menyampaikan keinginannya untuk study lanjut, dan waktu itu saya setuju-setuju saja. Begitu seriusnya sam...