Langsung ke konten utama

Publikasi Buku "Ku Didik Engkau dengan Cinta"


Namanya juga masih draft, masih rencana, pasti akan banyak perbaikan sana sini. Termasuk dalam urusan judul buku. Kemarin saya memutuskan membuat judul buku “Mendidik dengan Cinta”. Eh.., ada teman yang komentar kalau sudah ada buku denga judul yang sama. Dikarenakan saya tidak suka sama-samaan, akhirnya saya ganti judul buku menjadi “Ku Didik Engkau dengan Cinta”. Hanya masalah judul yang beda. Esensi masih tetap sama dan semoga tak ada buku yang berjudul sama lagi.

Berikut ini adalah rencana publikasi buku. Sekali lagi ini masih rencana, jadi hanya gambaran kasar saja. Masih sangat memungkinkan ada banyak perubahan kelak.

Kerjasama dengan penerbit
Penulis pemula seperti saya akan memulai memasukkan naskah ke penerbit Indie. Ada beberapa penerbit Indie yang mulai saya perhitungkan seperti Ellunar, Kata Depan, Pejuang Literasi, Intisari, dan beberapa penerbit buku lain. Saya masih speak-speak suami supaya mau membantu dalam hal penerbitan.

Cara pemasaran
Dilakukan secara online maupun offline. Secara online promosi buku dapat dilakukan saat market day di beberapa grup atau posting status dan story  di facebook, instagram, twitter, dan whatsapp. Secara offline saya berencana mengajak suami saya untuk bekerja sama memasarkan buku dengan sasaran guru di sekolah-sekolah.

Cara penjualan
Melayani open PO (pre order) dengan harga diskon dan harga normal jika sudah lewat masa PO.

Segmentasi pembaca
Buku ini bisa dibaca oleh laki-laki maupun perempuan di usia 20 – 40 tahun. Akan lebih bermanfaat jika buku ini dibaca oleh orang tua, calon orang tua, calon istri/suami.

#nonfiksi
#ODOPBatch6

Komentar

Posting Komentar

Thank you for visiting... 😁😁

Postingan populer dari blog ini

Pojok Bermain Lula

Bermain menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari masa kanak-kanak termasuk usia bayi. Bermain dibutuhkan anak-anak sebagai sarana eksplorasi sekaligus sebagai sarana bermain peran. Melalui bermain, anak-anak bisa mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ia bisa mengenal berbagai bentuk benda, warna, halus kasar, besar kecil, dan sebagainya. Ketika ia memainkan sesuatu, ia berarti melihat dan memegang lebih dekat apa yang anak tersebut mainkan. Demikian pula dengan bermain peran. Dalam kegiatan bermain, kadang anak berperan seolah-olah menjadi penjual, ibu, dokter, pembeli, guru, atau pekerjaan lainnya. Peran yang dimainkan anak-anak bisa membantu memperkaya kosa kata yang dimilikinya. Apakah terdapat hubungan antara bermain dan mendidik? Menurutku bermain erat kaitannya dengan mendidik terutama bagi anak-anak di usia balita. Ketika bermain, ia sekaligus dapat belajar banyak hal. Misalnya, dalam permainan kubus meraba untuk bayi usia 6 bulan. Ketika bermain kubus meraba, bayi dapa...

Resensi Buku "Rumahku Madrasah Pertamaku"

Judul Buku : Rumahku Madrasah Pertamaku (Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak) Penulis : Dr. Khalid Ahmad Syantut Penerbit : Maskana Media (Imprint Pustaka Rumah Main Anak) Cetakan : kedua, Januari 2019 Jumlah Halaman : 184 halaman Pertama kali melihat iklan masa PO buku ini, saya langsung tertarik untuk memesannya. Saya memang senantiasa tertarik pada buku parenting . Ketidaksempurnaan dalam diri saya membuat saya ingin terus memperbaiki supaya kelak saya bisa mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul inginkan. Setelah menunggu selama kurang lebih dua minggu, akhirnya buku ini berada di pelukan saya. Desain dan layout buku yang menarik membuat saya ingin segera membacanya. Kemudian, saya bacalah buku ini, mengalahkan tumpukan buku lain yang belum sempat terbaca. "Rumahku Madrasah Pertamaku" begitulah judul buku ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengingatkan saya kembali tentang betapa berpengaruhnya lingkungan rumah terhadap karakter a...

Review: Piknik Edukatif Disponsori oleh Bukalapak

Ingat piknik, jadi ingat ketika saya masih kecil dulu. Piknik menjadi suatu hal yang sangat luar biasa karena hanya terjadi sekali selama 1 semester, yaitu ketika libur sekolah. Minimnya sarana dan keterbatasan dalam banyak hal membuat moment piknik ini memang sangat jarang terjadi ketika saya kecil. Ketika saya masih kecil, akses informasi belum secepat sekarang. Ketika hendak piknik tempat yang dituju biasanya hanya tempat yang memiliki wahana bermain. Di benak saya dan keluarga, piknik identik dengan bermain. Dapat dikatakan bahwa bukan piknik namanya jika tidak naik wahana apapun di tempat rekreasi. Itu persepsi piknik ketika saya masih kecil. Nah.. Begitu sekarang saya menjadi ibu, persepsi tentanf piknik menjadi bergeser. Piknik tidak hanya terbatas pada bermain atau wahana permainan. Piknik seharusnya bisa memuat nilai-nilai edukatif untuk menanamkan hal yang positif pada anak. Ketika anak piknik, mereka harus bisa mengambil suatu nilai atau mempelajari sesuatu. Salah satu te...